Archive for Mei, 2008
Tumbuhan Gulma Itu Bermanfaat
Enceng gondok (Eichornia crassipes) sebagai bahan yang tidak berguna dan sangat mengganggu lingkungan dapat dimanfaatkan menjadi barang berguna berupa barang kerajinan misalnya tas, alas sandal, sarung bantal kursi, taplak meja, alas cawan gelas, karpet, tikar, dan pigura. Enceng gondok juga tidak hanya berguna untuk kerajinan saja, enceng gondok bisa juga dimanfaatkan pertumbuhan pesatnya dengan merubahnya menjadi sumber energi (gas bio). Ia mampu meningkatkan kadar oksigen di air, menyerap kotoran sehingga Biochemical Oxigen Demand (BOD) menjadi turun.
Untuk membuat kerajinan berbahan baku enceng gondok pada dasarnya mudah, sederhana, modalnya tidak besar, dan tidak menuntut ketrampilan tinggi, namun memerlukan kreativitas. Kerajinan enceng gondok dapat dikerjakan para ibu rumah tangga dan juga oleh pemuda putus sekolah sehingga dapat mengurangi pengangguran.
warga bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 25 ribu per hari hanya dari menjual enceng gondok. Harga satu kilogram enceng gondok basah (setelah dipetik) dijual seharga Rp 125 sampai Rp 150. Sedangkan harga keringnya dijual seharga Rp 2.300 sampai Rp 2.500 per kilogram. Produk berbahan dasar enceng gondok juga telah berhasil di export ke mancanegara antara lain ke Spanyol, Amerika dan Italia.
Kalau kita cermati, di beberapa tempat di Temanggung terdapat banyak tanaman ini. Populasinya menyebar diberbagai pelosok, bahkan tumbuhan ini sengaja dibiarkan tumbuh begitu saja di sawah-sawah ataupun kolam. Sebenarnya kalau jeli, tanaman ini bisa kita manfaatkan.
Seperti yang telah dilakukan oleh beberapa penduduk di Kecamatan Banyubiru, Salatiga. Mereka memanfaatkan Enceng gondok yang tumbuh liar di sekitar Rowo Pening. Dahan enceng gondok yang mengandung serat selulosa ini dijemur dilahan kosong depan rumah dan dijual ke spekulan.(ifa) tulisan diambil dari berbagai sumber
Add comment Mei 28, 2008
Generasi Muda Dan Lingkungan
Akhmad Arief Fahmi
penggiat LSM Relung Yogyakarta
Lingkungan Hidup adalah Masa Depan
Pemuda adalah masa depan begitulah kata pepatah. Masa depan seperti apa? Kebanyakan orang mengangankan harapan masa depan adalah dengan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan sekarang. Ada isu yang belakangan agak santer terdengar tentang kesejahteraan, yang tak lagi didominasi oleh ukuran-ukuran ekonomi semata, orang mulai banyak bicara tentang lingkungan hidup. Selain sejahtera secara ekonomi kita berharap masa depan tidak diwarnai oleh banjir, tanah longsor, pencemaran, kekeringan dan lainnya. Yang memang belakangan banyak saudara-saudara kita yang menderita akibat bencana alam dan lingkungan tersebut. Semakin nyatalah bahwa masa depan yang lebih baik bukan semata-mata ditentukan kemampuan ekonomi kita baik atau tidak, akan tetapi lingkungan hidup yang baik, aman, nyaman dan sehat ternyata juga merupakan fondasi bagi kesejahteraan di masa yang akan datang. Apalah artinya kita kaya sesaat sebagai hasil dari panen (menebang) kayu serampangan dan kemudian 20 tahun kemudian kita kehilangan rumah, jalan bahkan nyawa sanak saudara akibat banjir bandang. Untung atau buntung??
Mengingat kondisi yang ada maka sepertinya masa depan akan bertambah berat karena seolah-olah kita tidak pernah mentas dari perut yang lapar (ekonomi) akan tetapi ke depan kita harus mengalokasikan sumberdaya dan energi kita untuk mengatasi persoalan-persoalan lingkungan yang ada. Dan ini semua merupakan tantangan bagi generasi muda sekarang karena kondisi di masa yang akan datang kitalah yang akan merasakan. Apakah ke depan kita masih dapat menikmati hijaunya hutan, air yang segar, melimpah dan murah, udara yang sehat, tanah yang subur dan tidak tercemar, aneka ragam satwa liar dan burung-burung beterbangan menyapa kita di pagi dan sore hari? Tergantung kita sebagai generasi muda.
Apa saja yang dapat dilakukan
Sebagai generasi muda banyak cara yang dapat kita tempuh untuk mengekspresikan kepedulian kita terhadap lingkungan hidup. Beberapa hal praktis secara individual/personal kita dapat melakukan tindakan-tindakan seperti:
- membuang sampah pada tempatnya
- hemat BBM
- hemat Air
- Menghijaukan sekitar rumah
- Tidak berburu hewan liar apalagi yang dilindungi
- Membuat kompos dari sampah organik keluarga
Selain itu generasi muda yang masih terlibat dalam kegiatan akademis baik di sekolah maupun kampus dapat melakukan kegiatan akademis seperti mempelajari berbagai isu lingkungan hidup ataupun menyelenggarakan kegiatan penelitian secara berkelompok. Penelitian-peneltian sederhana seperti pengukuran kualitas air tanah, suplai air bersih di suatu kawasan, pengamatan burung, pengukuran tingkat pencemaran udara di perkotaan, dan lain sebagainya.
Gerakan Lingkungan Melalui Organisasi Pemuda
Berbagai organisasi pemuda baik didalam maupun di luar sekolah dapat menjadi salah satu ruang untuk terselenggaranya berbagai aksi lingkungan hidup. Melalui organisasi seperti OSIS misalnya para pelajar dapat melakukan aksi bersama penanaman lahan kritis atau melakukan kampanye lingkungan hidup, dan juga melakukan berbagai kegiatan akademis. Di beberapa tempat Karang Taruna menjadi pelopor di daerahnya untuk melakukan kegiatan perlindungan lingkungan hidup. Mereka bersama anggota dan perangkat desa membuat aturan di desa tentang larangan untuk mencemari sungai atau berburu burung. Pramuka juga dapat menjadi wahana bagi generasi muda untuk menyalurkan kepeduliannya terhadap lingkungan.
Kepedulian terhadap sesama adalah fondasi
Berbagai bencana lingkungan memang tidak semua manusia merasakannya tapi ironisnya justru mereka yang kurang beruntung secara ekonomi malah menjadi korban. Mereka yang miskin biasanya tinggal di sekitar hutan, di daerah rawan longsor dan banjir ataupun rawan kekeringan. Sementara sebagian dari kita mungkin tidak merasakan berbagai persoalan lingkungan yang oleh sebagian dari penderitanya sampai mengancam nyawa. Oleh karena itu kepedulian kita terhadap lingkungan hakikatnya adalah kepedulian kita terhadap nasib sesama. Oleh karena itu kepedulian kita terhadap lingkungan merupakan wujud dari kepedulian kita terhadap nasib sesama manusia.
Terakhir yakinlah bahwa semodern apapun manusia nantinya tetap butuh air dan udara serta makanan yang sehat, bisakah hal itu diproduksi jika lingkungan kita tercemar berbagai barang beracun? Mungkin yang kaya bisa membeli AC, mobil ber AC, air mineral, bisa beli burung yang semakin mahal jika disuruh berkicau, tapi yang lainnya bagaimana? Ke laut ajeee..??
Add comment Mei 28, 2008
Bersama Bakti Bumi
Semua manusia pasti pernah menginjak bumi, namun belum tentu semuanya tahu kalau ada hari bumi. Pertanyaan sekarang apakah semua sudah memperingatinya? Terutama buat manusia yang mempunyai akal, pikiran dan perasaan, apakah mereka berbuat baik pada bumi.
Dalam rangka memperingati hari bumi beberapa organisasi di Temanggung bersama memperingatinya. IPKT(Ikatan Pelajar Katolik Temanggung), JaRi “SuSi”(Jaringan Nasional Rakyat Berdaya dan siaga Indonesia “Sumbing Sindoro), Lansia, serta Dipersani.
Kolaborasi dalam memperingati hari bumi ini dengan kegiatan antara lain: Seminar dengan tema pemanasan global dengan pembicara, Bekti Wibowo dari JaRi Pusat, penanaman pohon mahoni untuk turus jalan di Desa Wonotirto.
Seminar yang dilakukan pada tanggal 20 April 2008, yang bertempat di Balai Keluarga Kanisius, dihadiri oleh semua kader lansia, pengurus JaRi dan IPKT. “Hal yang mungkin dilakukan dalam menyikapi pemanasan global ada 3 prinsip, mitigasi dan adaptasi, merubah gaya hidup, dan merubah regulasi,” papar Bekti.
Usai seminar IPKT dan beberapa pengurus dipersani, lansia dan JaRi mengambil 500 bibit mohoni di Piranti works Kandangan, sebuah perusahan ekspor radio dari kayu, sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya yang dikenal dengan CSR (corporate responsibility).
Tepat tanggal 22 April, penanaman pohon untuk turus jalan di Desa Wonotirto Bulu, secara simbolis dilakukan oleh Naruh, Kepala Desa Wonotirto di lokasi Monumen Meteorit. selanjutnya penanaman turus jalan dilakukan anak-anak SMP 3 Bulu dan Karang Taruna Desa Wonotirto.(Mkd)
Add comment Mei 28, 2008




